TL;DR SUMMARY
Ekspektasi awal jelas: upah disepakati berdasarkan gambaran umum 18 screen saja. backend sudah tersedia. akan dibayar 50% setelah 2 minggu bekerja. Namun kenyataannya, backend baru dibuat, API belum ada, dan ketika briefing tiap mengawali sprint, implementasi realitanya setelahnya justru mengubah scope secara signifikan pada Acceptance criteria berubah di tengah-tengah.
Padahal ini proyek dengan pembayaran satu kali, bukan kontrak bulanan yang fleksibel terhadap perubahan. bahkan saya menawarkan solusi negosiasi ulang upah sesuai scope baru dan cara kerja mereka supaya adil atas dasar kesepakatan awal "dimana yang belum dimuat akan di-revisi kembali", tapi tetap ditolak.
Diklaim mengakhiri proyek secara sepihak oleh mereka. Proyek dihentikan sepihak, tidak dibayar (sudah mengerjakan 29+ screen UI, push code ke github), malah diminta ganti rugi 4JT (jadi saya yang menggaji mereka?).
Pahit? Iya, begini ceritanya:
- 3 bulan terakhir perjalanan mencari kerja sangat berat.
- Cari kerja on-site, namun sering dighosting.
- Lebih dari puluhan kali test, live test coding, test 200 soal test psikologi rata-rata makan waktu 90 menit pengerjaan and more.
- Lebih dari 20 kali ikut interview (HC & user), hasilnya tetap dighosting.
- Sudah apply lebih dari 400 lowongan, banyak ditolak, sebagian lanjut interview.
- 3 bulan menganggur, modal untuk on-site habis, nggak bisa terbang ke luar pulau.
- Akhirnya dapat tawaran freelance dari luar pulau. sebagai Frontend Developer (Flutter for Web dan Mobile).
Oke balik ke cerita utama:
Bayangkan Anda menerima tawaran proyek freelance sebagai frontend developer. Saat wawancara, ekspektasinya jelas: backend sudah tersedia, tugas Anda hanya membangun antarmuka dan mengintegrasikan API yang ada. Upah pun disepakati berdasarkan gambaran umum yang sederhana (18 Screen). tanpa detail scope yang kompleks. Konsep agile yang disepakati saat wawancara sebenarnya hanya terkait prioritas pengerjaan (mana duluan), bukan perubahan pada scope yang sedang dikerjakan karena backend sudah ada.
Saya pun setuju, Kontrak memuat dua poin penting:
- pada proses-nya awal revisi terjadi 2x untuk memuat hal penting lainya.
- Pasal 5 ayat 2: 50% upah dibayarkan setelah melewati evaluasi 2 minggu.
- Pasal 12 ayat 1: Hal yang belum diatur akan disepakati kemudian sesuai hukum. ini jadi landasan awal saya percaya.
Namun, realita berkata lain.
Begitu proyek berjalan:
- Backend ternyata baru dibuat dari nol.
- API dan dokumentasi belum tersedia.
- Screen lebih dari 18, menjadi 29+ ini baru minggu kedua dan baru data master dan core feature saja yang dikerjakan.
- Acceptance criteria hingga lebih dari 120 poin (per sprint).
sesuatu yang tidak pernah disebutkan sebelumnya. Dan ini baru untuk sprint pertama! Sprint berikutnya pun dibuat belakangan, bahkan di tengah proses pengerjaan kriteria terus diubah dan diedit, sehingga alur kerja menjadi tidak stabil dan progres terhambat.
Lebih rumit lagi,
setelah dua minggu, muncul aturan baru (membuat kesepakatan ditengah proses): pembayaran hanya dilakukan jika mencapai sprint tertentu karena di anggap sprint 1 dan 2 termasuk kategori 2 minggu. Aturan ini tidak pernah dibahas di awal. padahal, proses wawancara dan revisi spk ini bukan terkait sprint tapi lebih ke kinerja dan aktivitas. jadi, Saya mencoba mengacu pada pasal 12 untuk meminta kejelasan scope agar tidak bias. Tapi respons perusahaan justru:
- Menunda pembayaran.
- Menganggap saya melanggar perjanjian.
- Mengklaim source code yang sudah saya kerjakan.
- Bahkan meminta saya ganti rugi
dianggap melakukan markup harga. padahal, menyesuaikan upah sesuai scope yang berkembang dan diluar ekspektasi.
Yang membuat situasi semakin berat: perusahaan menolak mencantumkan detail scope dengan alasan βrahasia perusahaanβ. Tidak ada visualisasi effort, tidak ada upaya menciptakan win-win solution.
Pelajaran besar yang saya ambil:
- β Pastikan semua kesepakatan tertulis jelas sejak awal.
- β Jangan ragu meminta detail scope sebelum menyetujui upah, lakukan lebih dari 2x atau bahkan lebih untuk memastikan tidak ada bias.
- β Transparansi bukan hanya soal legalitas, tapi juga etika dan kepercayaan.
Saya percaya pengalaman ini bisa jadi pengingat bagi kita semua: integritas dan komunikasi yang jelas adalah fondasi kerja sama yang sehat.
π Bagaimana menurut Anda? Pernahkah menghadapi situasi serupa? Saya ingin mendengar pandangan Anda di kolom komentar.
buatlah kontrak yang tidak berat sebelah dan pastikan semua poin penting tercantum jelas sejak awal.
Attachments history perjalanan saya mencari pekerjaan:
Attachments chat history terkait pengalaman freelance ini:
akan saya upload nanti, lagi capek menghadapi dunia, apalagi harus mensensor pengalaman pahit ini. kata teman saya, yang penting ditulisanmu jangan ada nama perusahaan dan orangnya. biar aman. yasudah deh, segitu aja dulu ceritanya. mungkin tidak akan saya publish juga, tapi biar jadi pelajaran buat saya pribadi. terima kasih sudah membaca sampai habis.
jika kamu tertarik cerita pengalaman saya lainya terkait pahit manisnya upwork freelance, kamu bisa komentar di bawah ya.




Comments (0)